Semangat yang selalu diusung SEA Games jelas, itu adalah tentang solidaritas regional, persaingan sehat, dan diplomasi lunak lewat prestasi olahraga. Dalam praktiknya setiap edisi menonjolkan slogan dan citra ‘kebersamaan’, dari upacara pembukaan sampai kunjungan antar delegasi, sebagai penegasan olahraga dapat menjadi bahasa bersama yang melintasi politik.
Namun di SEA Games 2025 yang digelar di bangkok, semangat SEA Games sepertinya telah memiliki noda yang tak bisa dihindari. Panggung persatuan bangsa-bangsa se-Asia Tenggara ini bertabrakan dengan realitas geopolitik.
SEA Games 2025 menempatkan Thailand menjadi tuan rumah. Namun pada saat bersamaan, perbatasan antara Thailand dan Kamboja memanas memunculkan konflik bersenjata. Insiden memilukan ini terjadi, memakan korban dan menimbulkan gelombang besar pengungsian massal.
Konflik ini telah menyebabkan ribuan orang mengungsi dan masih terus terkoreksi hingga saat ini, karena konflik masih terjadi. Kontinen Kamboja, yang sempat hadir di acara pembukaan, pada akhirnya menarik diri. Menambah ’cacat’ pada penyelenggaraan SEA Games 2025 tahun ini.
SEA Games 2025, diharapkan menampilkan maskot, slogan, dan seremoni yang mempertegas solidaritas ASEAN. Namun menyelenggarakan acara besar di negara yang terlibat konflik lintas-perbatasan dengan salah satu tetangganya berarti juga mengirim dua pesan ganda.
Di satu sisi ada ajakan untuk bersatu lewat olahraga, tetapi di sisi lain, negara-negara di Asia Tenggara tak mampu menyikapi munculnya konflik Thailand-Kamboja. Ada sesuatu yang hilang dari penyelenggaraan SEA Games 2025 ini.
SEA GAMES lahir dari gagasan sederhana namun kuat, mempertemukan negara-negara Asia Tenggara melalui olahraga untuk menumbuhkan persahabatan, kerja sama, dan saling pengertian. Pada penyelenggaraan pertama di 1959 itulah nilai-nilai yang dibangun.
Ketika SEAP (South East Asian Peninsular) Games diselenggarakan di Bangkok, gagasan mempersatukan negara se Asia Tenggara semakin bersambut. Hingga pada akhirnya, berkembang menjadi SEA Games modern hingga saat ini.
Semangat yang selalu diusung SEA Games jelas, itu adalah tentang solidaritas regional, persaingan sehat, dan diplomasi lunak lewat prestasi olahraga. Dalam praktiknya setiap edisi menonjolkan slogan dan citra ‘kebersamaan’, dari upacara pembukaan sampai kunjungan antar delegasi, sebagai penegasan olahraga dapat menjadi bahasa bersama yang melintasi politik.
Namun di SEA Games 2025 yang digelar di bangkok, semangat SEA Games sepertinya telah memiliki noda yang tak bisa dihindari. Panggung persatuan bangsa-bangsa se-Asia Tenggara ini bertabrakan dengan realitas geopolitik.
SEA Games 2025 menempatkan Thailand menjadi tuan rumah. Namun pada saat bersamaan, perbatasan antara Thailand dan Kamboja memanas memunculkan konflik bersenjata. Insiden memilukan ini terjadi, memakan korban dan menimbulkan gelombang besar pengungsian massal.
Konflik ini telah menyebabkan ribuan orang mengungsi dan masih terus terkoreksi hingga saat ini, karena konflik masih terjadi. Kontinen Kamboja, yang sempat hadir di acara pembukaan, pada akhirnya menarik diri. Menambah ’cacat’ pada penyelenggaraan SEA Games 2025 tahun ini.
SEA Games 2025, diharapkan menampilkan maskot, slogan, dan seremoni yang mempertegas solidaritas ASEAN. Namun menyelenggarakan acara besar di negara yang terlibat konflik lintas-perbatasan dengan salah satu tetangganya berarti juga mengirim dua pesan ganda.
Di satu sisi ada ajakan untuk bersatu lewat olahraga, tetapi di sisi lain, negara-negara di Asia Tenggara tak mampu menyikapi munculnya konflik Thailand-Kamboja. Ada sesuatu yang hilang dari penyelenggaraan SEA Games 2025 ini.
Realitas...
Ada realitas kekerasan dan ketidakpercayaan yang mengikis fondasi persahabatan di antara bangsa-bangsa di Kawasan Asia Tenggara saat ini. Ketika atlet di SEA Games 2025, mengibarkan bendera, secara bersamaan ada warga sipil yang kehilangan nyawa. Benar memunculkan sebuah paradok yang menyakiti semangat SEA Games.
SEA Games 2025, seharusnya bisa menjadi arena diplomasi lunak, yang bisa memberi kesempatan bagi semua delegasi dan pejabat untuk bertemu di luar meja politik. Namun ketika tentara menembakkan artileri atau drone melintasi perbatasan, simbolisme dan praktik diplomasi lunak menjadi rapuh.
Sengketa di perbatasan Thailand-Kamboja, entah apa yang menyebabkannya, memberi citra tragis pada SEA Games 2025. Sementara SEA Games 2025 menampilkan pagelaran budaya untuk merayakan warisan bersama bangsa Asia Tenggara, ada ancaman, dan situasi bahaya karena pertempuran dan serangan.
Konflik lama yang menjerat dua negara telah membuat identitas SEA Games menjadi sesuatu yang naif. Negara-Negara yang berada di luar konflik, juga sepertinya tak kuasa atau serba canggung, ketika harus bersikap bagaimana dalam konteks SEA Games, sementara ada dua anggotanya yang terlibat sengketa.
Gemuruh sorak-sorai penyelenggaraan festival olahraga terbesar se Asia Tenggara bernama SEA Games 2025, memunculkan situasi yang kontradiktif. Karena pada saat bersamaan ada ribuan orang mengungsi atau kehilangan akses dasar kehidupannya.
SEA Games 2025 jelas menimbulkan dilema moral tentang prioritas sumber daya dan citra. Mengadakan pesta olahraga besar di saat krisis kemanusiaan berlangsung, apakah tidak menunjukkan prioritas yang keliru? Tidak mudah untuk memberikan jawaban pada pertanyaan ini.
SEA Games bukan sekadar pertandingan. Even olah raga ini adalah cermin bagi nilai kolektifitas kawasan Asia Tenggara di tengah pergaulan internasional. Ketika itu dilakukan dalam latar belakang perang, maka semuanya akan memunculkan sebuah tes moral.
Masih Adakah...
Apakah semangat solidaritas dalam SEA Games pada akhirnya hanya menjadi slogan semata? Juga tidak mudah untuk menjawabnya. Tetapi satu hal jelas, di SEA Games 2025, bangsa-bangsa di Asia Tenggara telah menghaapi sebuah tantangan nyata.
Konflik Thailand-Kamboja, sejauh yang terjadi belum memberi masalah pada penyelenggaraan SEA Games 2025. Namun secara nilai, apa yang terjadi harus diakui telah ada nilai-nilai tertentu yang telah diabaikan dalam semangat SEA Games.
Semoga, Thailand-Kamboja bisa kembali mendapatkan persaudaraannya sebagai sesama bangsa Asia Tenggara. Semoga SEA Games selanjutnya bisa digelar dengan semangat dan nilai-nilai luhur, yang diusung sejak awal penyelenggaraannya.
Bangkok Thailand adalah kota awal diselennggarakannya cikal bakal SEA Games, di bangkok pula SEA Games mendapatkan ujian. Seberapa jauh SEA Games akan terus membawa semangat kebersamaan Asia Tenggara, sepertinya tengah diuji.(*)