Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

SEA GAMES lahir dari gagasan sederhana namun kuat, mempertemukan negara-negara Asia Tenggara melalui olahraga untuk menumbuhkan persahabatan, kerja sama, dan saling pengertian. Pada penyelenggaraan pertama di 1959 itulah nilai-nilai yang dibangun.

Ketika SEAP (South East Asian Peninsular) Games diselenggarakan di Bangkok, gagasan mempersatukan negara se Asia Tenggara semakin bersambut. Hingga pada akhirnya, berkembang menjadi SEA Games modern hingga saat ini.

Semangat yang selalu diusung SEA Games jelas, itu adalah tentang solidaritas regional, persaingan sehat, dan diplomasi lunak lewat prestasi olahraga. Dalam praktiknya setiap edisi menonjolkan slogan dan citra ‘kebersamaan’, dari upacara pembukaan sampai kunjungan antar delegasi, sebagai penegasan olahraga dapat menjadi bahasa bersama yang melintasi politik.

Namun di SEA Games 2025 yang digelar di bangkok, semangat SEA Games sepertinya telah memiliki noda yang tak bisa dihindari. Panggung persatuan bangsa-bangsa se-Asia Tenggara ini bertabrakan dengan realitas geopolitik.

SEA Games 2025 menempatkan Thailand menjadi tuan rumah. Namun pada saat bersamaan, perbatasan antara Thailand dan Kamboja memanas memunculkan konflik bersenjata. Insiden memilukan ini terjadi, memakan korban dan menimbulkan gelombang besar pengungsian massal.

Konflik ini telah menyebabkan ribuan orang mengungsi dan masih terus terkoreksi hingga saat ini, karena konflik masih terjadi. Kontinen Kamboja, yang sempat hadir di acara pembukaan, pada akhirnya menarik diri. Menambah ’cacat’ pada penyelenggaraan SEA Games 2025 tahun ini.

SEA Games 2025, diharapkan menampilkan maskot, slogan, dan seremoni yang mempertegas solidaritas ASEAN. Namun menyelenggarakan acara besar di negara yang terlibat konflik lintas-perbatasan dengan salah satu tetangganya berarti juga mengirim dua pesan ganda.

Di satu sisi ada ajakan untuk bersatu lewat olahraga, tetapi di sisi lain, negara-negara di Asia Tenggara tak mampu menyikapi munculnya konflik Thailand-Kamboja. Ada sesuatu yang hilang dari penyelenggaraan SEA Games 2025 ini.

Realitas...

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Sport Terkini

Terpopuler