Sejak resmi menukangi Setan Merah, Ruben Amorim selalu setia dengan pakem 3-4-3 yang selama ini melekat kuat pada filosofi bermain tim yang dilatihnya. Tapi di Laga MU vs Bournemouth, banyak yang menilai, pelatih asal Portugal ini mulai memberi sentuhan berbeda dalam formasi bermain timnya.
Keputusan Amorim meninggalkan sistem favoritnya memang sempat mengundang tanda tanya. Namun di atas lapangan, MU justru tampil hidup, agresif, dan penuh energi. Meski pertandingan berakhir dengan skor imbang 4-4, ada satu kesimpulan kuat, permainan yang tersaji adalah tampilan MU yang sudah dirindukan.
Gary Neville, yang selama beberapa pekan terakhir tanpa ragu melontarkan kritik pedas soal minimnya semangat dan urgensi MU, terutama saat melawan Everton dan West Ham, berbalik arah 180 derajat. Mantan kapten MU itu tak bisa menyembunyikan pujiannya dengan perubahan yang ada.
“Ini adalah kebalikan dari pertandingan sebelumnya. Saya menerima hasil ini karena mereka bermain dengan niat yang jelas, kecepatan tinggi dan selalu melihat ke depan,” ujar Neville memberikan analisa untuk Sky Sports.
Terlepas hasilnya yang tidak menyenangkan, Neville menyebut laga tersebut sebagai penampilan terhebat MU secara emosional. Pujian seperti ini, merupakan sesuatu yang jarang keluar dari mulut Neville untuk MU dalam beberapa waktu terakhir.
Murianews, Kudus – Laga Manchester United (MU) vs Bournemouth yang berakhir imbang 4-4, memang mengejutkan. Tapi ada kejutan lain yang ternyata terjadi di laga ini. MU untuk pertama kalinya sejak dilatih Amorim akhirnya mengubah formasinya.
Sejak resmi menukangi Setan Merah, Ruben Amorim selalu setia dengan pakem 3-4-3 yang selama ini melekat kuat pada filosofi bermain tim yang dilatihnya. Tapi di Laga MU vs Bournemouth, banyak yang menilai, pelatih asal Portugal ini mulai memberi sentuhan berbeda dalam formasi bermain timnya.
Di laga itu, menurut Daily Mail, perubahan formasi yang dilakukan Amorim langsung menunjukan hasil positif. Bahkan apa yang disajikan MU di laga ini pada akhirnya juga menyedot perhatian publik sepak bola di Inggris.
Keputusan Amorim meninggalkan sistem favoritnya memang sempat mengundang tanda tanya. Namun di atas lapangan, MU justru tampil hidup, agresif, dan penuh energi. Meski pertandingan berakhir dengan skor imbang 4-4, ada satu kesimpulan kuat, permainan yang tersaji adalah tampilan MU yang sudah dirindukan.
Gary Neville, yang selama beberapa pekan terakhir tanpa ragu melontarkan kritik pedas soal minimnya semangat dan urgensi MU, terutama saat melawan Everton dan West Ham, berbalik arah 180 derajat. Mantan kapten MU itu tak bisa menyembunyikan pujiannya dengan perubahan yang ada.
“Ini adalah kebalikan dari pertandingan sebelumnya. Saya menerima hasil ini karena mereka bermain dengan niat yang jelas, kecepatan tinggi dan selalu melihat ke depan,” ujar Neville memberikan analisa untuk Sky Sports.
Terlepas hasilnya yang tidak menyenangkan, Neville menyebut laga tersebut sebagai penampilan terhebat MU secara emosional. Pujian seperti ini, merupakan sesuatu yang jarang keluar dari mulut Neville untuk MU dalam beberapa waktu terakhir.
Terbaik...
Pujian serupa datang dari Jamie Carragher. Legenda Liverpool itu menilai duel MU v Bournemouth sebagai performa terbaik Setan Merah sejak ditangani oleh Ruben Amorim. Carragher melihat ada ledakan permainan MU di awal laga, ketika tuan rumah melepaskan hingga 17 tembakan hanya dalam 30 menit pertama.
“Ini mengingatkan saya pada periode ketika MU masih dipimpin oleh Sir Alex Ferguson – sepak bola menyerang yang cepat dan energik dan lawan yang mencekik,” kata Carragher.
Meskipun skor 4-4 dan Bournemouth hampir menang, MU adalah tim yang lebih baik di laga ini. Untuk pertama kalinya setelah lama tak terlihat, Caragher mengaku seperti sedang MU yang sebenarnya.
Sebelumnya, Amorim memang tak lepas dari kritik ketika dinilai terlalu kaku dalam mempertahankan skema 3-4-3, Formasi ini membawanya sukses besar dirinya bersama Sporting Lisbon. Tetapi di MU, skema itu justru seperti mmembuat permainan MU menjad tumpul.
Menariknya, sebelum laga melawan Bournemouth, Amorim sudah memberi sinyal perubahan dengan mengakui bahwa MU mampu bermain menggunakan empat bek. Dan ketika pertandingan dimulai, perubahan itu benar-benar terasa.
Saat menguasai bola, struktur MU tampak cair dan dinamis. Yoro di laga ini menempati posisi sebagai bek kanan, sementara Luke Shaw lebih sering masuk ke tengah untuk berkolaborasi dengan Heaven. Di sisi lain, Dalot menempati area kiri. Amad Diallo tak lagi dipaksa turun sebagai wing-back, tetapi diberi kebebasan menempel di sayap kanan lini serang karena Yoro sudah mengamankan sektor belakang.
Berikutnya Masson Mount menguasai sisi kiri, Casemiro berperan sebagai jangkar di lini tengah, sementara Bruno Fernandes didorong lebih maju untuk mengatur serangan. Sedangkan di depan, Amorim memasangkan Cunha dan Mbeumo. Semua itu membuat MU kerap berubah bentuk menjadi 4-4-2 dalam posisi difensif.
Eksperimen terbaru Amorim di MU ini belum sempurna. Tetapi satu telah menjai jelas, MU kini menunjukkan kemampuan beradaptasi. jika performa seperti ini bisa dipertahankan, MU mungkin akhirnya menemukan jalan keluar dari masalah panjang mereka.