Protes keras dilancarkan para pemain Senegal, dan bahkan mereka sempat meninggalkan lapangan menuju ruang ganti pada menit ke-90+12. Situasi baru mereda setelah Sadio Mane turun tangan dan membujuk rekan setimnya untuk mau kembali ke lapangan.
Jadilah, Brahim Diaz melakukan eksekusi penalti, 20 menit lebih sejak yang keputusan kontroversial itu diberikan wasit. Tetapi, sepertinya dewi fortuna memang berada di pihak Senega dan Sadio Mane. Dengan gaya panenka, Brahim Diaz gagal menyelesaikan kesempatan itu. Penaltinya dengan mudah diantisipasi kiper Senegal.
Bola tidak masuk ke gawang Senegal, Brahim Diaz tersungkur dan menangis di lapangan. Sementara Senegal seperti lolos dari “hukuman mati”, dan untuk selanjutnya benar-benar trengginas memanfaatkan kesempatan.
Skor imbang 0-0 akhirnya harus berlanjut ke perpanjangan waktu. Laga di babak tambahan tetap berlangsung dengan tensi tinggi. Pada menit ke-94, momen penentu akhirnya tiba. Pape Gueye melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang meluncur tak terbendung ke sudut atas gawang Bounou.
Gol spektakuler itu langsung mengubah jalannya sejarah final. Maroko mencoba bangkit di sisa waktu, namun kondisi semakin sulit setelah mereka harus bermain dengan energi terkuras dan kehilangan Hamza Igamane. Sebeliknya Senegal sudah keburu mendapatkan kedisplinan bermainnya.
Kemenangan ini memastikan gelar Piala Afrika kedua dalam sejarah sepak bola Senegal. Lebih dari sekadar trofi, hasil ini menegaskan Senegal sebagai kekuatan baru sepak bola Afrika, tim dengan mental baja, kualitas individu mumpuni, dan karakter juara.
Murianews, Kudus – Senegal menciptakan malam paling kacau dan emosional dalam sejarah final Piala Afrika. Pada laga pamungkas Piala Afrika 2026 mereka membanting Maroko dengan sangat keras. Meski hanya dengan skor 1-0, kemenangan Senegal membuat Maroko seperti terbanting keras.
Laga final Piala Afrika 2025 berlangsung di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1/2026) dinihari WIB, benar-benar membuat Maroko terbanting. Selain karena ambisi besar mereka sebagai tuan rumah, juga karena drama besar yang mengikuti kekalahan mereka di laga ini.
Duel Maroko vs Senegal, bahkan bisa dibilang penuh kontroversi, drama, dan air mata. Senegal yang berjuluk “Teranga Lions” menaklukkan Maroko 1-0 setelah perpanjangan waktu, sekaligus mengunci gelar juara Piala Afrika 2025 untuk yang kedua kalinya.
Laga kedua tim langsung berjalan panas sejak menit pertama. Baik Maroko maupun Senegal sama-sama tampil agresif dengan permainan tempo tinggi. Senegal sedikit lebih dominan dalam penguasaan bola, dengan duet Sadio Mane - Illiman Ndiaye terus merepotkan lini belakang Maroko.
Namun, Maroko di laga ini juga memiliki tembok kokoh bernama Yassine Bounou. Kiper andalan itu tampil gemilang dengan sejumlah penyelamatan krusial yang membuat babak pertama berakhir tanpa gol.
Memasuki babak kedua, giliran Maroko yang mengambil inisiatif serangan. Pergerakan Achraf Hakimi di sisi sayap serta kreativitas Brahim Diaz membuat pertahanan Senegal harus bekerja ekstra keras. Tetapi, meski terus ditekan, barisan belakang Senegal tetap disiplin dan sulit ditembus.
Ketegangan mencapai puncaknya di menit-menit akhir waktu normal. Pada menit ke-90+2, Senegal sempat menjebol gawang Maroko, namun gol dianulir wasit karena pelanggaran. Empat menit berselang, VAR ikut campur dan menghadiahkan penalti untuk Maroko, sebuah keputusan yang langsung memicu kontroversi besar.
Protes Keras...
Protes keras dilancarkan para pemain Senegal, dan bahkan mereka sempat meninggalkan lapangan menuju ruang ganti pada menit ke-90+12. Situasi baru mereda setelah Sadio Mane turun tangan dan membujuk rekan setimnya untuk mau kembali ke lapangan.
Jadilah, Brahim Diaz melakukan eksekusi penalti, 20 menit lebih sejak yang keputusan kontroversial itu diberikan wasit. Tetapi, sepertinya dewi fortuna memang berada di pihak Senega dan Sadio Mane. Dengan gaya panenka, Brahim Diaz gagal menyelesaikan kesempatan itu. Penaltinya dengan mudah diantisipasi kiper Senegal.
Bola tidak masuk ke gawang Senegal, Brahim Diaz tersungkur dan menangis di lapangan. Sementara Senegal seperti lolos dari “hukuman mati”, dan untuk selanjutnya benar-benar trengginas memanfaatkan kesempatan.
Skor imbang 0-0 akhirnya harus berlanjut ke perpanjangan waktu. Laga di babak tambahan tetap berlangsung dengan tensi tinggi. Pada menit ke-94, momen penentu akhirnya tiba. Pape Gueye melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang meluncur tak terbendung ke sudut atas gawang Bounou.
Gol spektakuler itu langsung mengubah jalannya sejarah final. Maroko mencoba bangkit di sisa waktu, namun kondisi semakin sulit setelah mereka harus bermain dengan energi terkuras dan kehilangan Hamza Igamane. Sebeliknya Senegal sudah keburu mendapatkan kedisplinan bermainnya.
Kemenangan ini memastikan gelar Piala Afrika kedua dalam sejarah sepak bola Senegal. Lebih dari sekadar trofi, hasil ini menegaskan Senegal sebagai kekuatan baru sepak bola Afrika, tim dengan mental baja, kualitas individu mumpuni, dan karakter juara.