Kondisi keuangan MU ke depan bahkan diperkirakan semakin menantang. Eliminasi dini di dua kompetisi domestik serta absennya laga Eropa membuat MU musim ini hanya menjalani sekitar 20 pertandingan kandang. Situasi ini berpotensi menggerus pendapatan matchday hingga £85 juta, padahal sektor tersebut selama lebih dari satu dekade menjadi salah satu kebanggaan Old Trafford.
Para analis menilai penurunan MU bukan semata akibat hasil di lapangan, tetapi juga karena model komersial klub yang mulai tertinggal dari tren global. Meski begitu, Manchester United masih dianggap sebagai salah satu merek sepak bola terbesar di dunia.
Tantangan utama kini berada di tangan manajemen baru di bawah Sir Jim Ratcliffe dan INEOS. Onwer MU ini dituntut segera berinvestasi pada infrastruktur, renovasi Old Trafford, serta membangun kembali hubungan emosional dengan basis penggemar global.
Murianews, Kudus – Manchester United tengah menjalani salah satu fase paling sulit dalam sejarah modern klub, baik dari sisi performa maupun finansial. Klub berjuluk Setan Merah itu kini bukan lagi tim terkaya di Liga Premier, sebuah status yang selama bertahun-tahun melekat pada nama besar mereka.
Berdasarkan laporan terbaru Deloitte Money League, Manchester United turun ke peringkat ke-8 dalam daftar klub sepak bola dengan pendapatan terbesar di dunia. Ini menjadi posisi terendah MU sejak laporan tersebut pertama kali diterbitkan 29 tahun lalu. Ironisnya, penurunan peringkat ini terjadi saat pendapatan klub justru mengalami kenaikan.
Total pemasukan MU dari tiket pertandingan, hak siar televisi, dan kerja sama komersial meningkat dari £653 juta pada musim 2023/2024 menjadi £692 juta musim lalu, atau naik sekitar £40 juta. Namun, lonjakan tersebut belum cukup untuk menahan laju klub-klub pesaing, baik dari Inggris maupun Eropa.
Salah satu penyebab utama kemunduran finansial MU adalah performa buruk di lapangan. Finis di posisi ke-15 Liga Premier berdampak langsung pada pemangkasan pendapatan hak siar hingga £45 juta.
Absennya MU dari Liga Champions juga memukul pemasukan klub, meski perjalanan hingga final Liga Europa sedikit membantu menutup kerugian. Situasi ini mengingatkan pada era pasca-Sir Alex Ferguson, bahkan sejak Michael Carrick masih menjadi bagian penting skuad, stabilitas seperti dulu tak pernah benar-benar kembali.
Di sisi lain, rival-rival tradisional justru melaju pesat. Liverpool kini menjadi klub terlaris di Inggris dengan pendapatan £729 juta setelah musim juara di bawah manajer Arne Slot. Arsenal naik signifikan ke peringkat ketujuh dunia berkat capaian semifinal Liga Champions. Manchester City juga masih berada di atas MU, membuat United hanya menempati posisi keempat di antara klub Liga Premier dari sisi keuangan.
Secara global, Manchester United kini tertinggal dari raksasa Eropa seperti Real Madrid, Barcelona, dan Bayern Munich. Klub-klub itu terus mendominasi daftar klub elit dunia dan mempertahankan citra sebagai Klub Terkaya sepak bola modern.
Keungan MU...
Kondisi keuangan MU ke depan bahkan diperkirakan semakin menantang. Eliminasi dini di dua kompetisi domestik serta absennya laga Eropa membuat MU musim ini hanya menjalani sekitar 20 pertandingan kandang. Situasi ini berpotensi menggerus pendapatan matchday hingga £85 juta, padahal sektor tersebut selama lebih dari satu dekade menjadi salah satu kebanggaan Old Trafford.
Para analis menilai penurunan MU bukan semata akibat hasil di lapangan, tetapi juga karena model komersial klub yang mulai tertinggal dari tren global. Meski begitu, Manchester United masih dianggap sebagai salah satu merek sepak bola terbesar di dunia.
Tantangan utama kini berada di tangan manajemen baru di bawah Sir Jim Ratcliffe dan INEOS. Onwer MU ini dituntut segera berinvestasi pada infrastruktur, renovasi Old Trafford, serta membangun kembali hubungan emosional dengan basis penggemar global.