Los Blancos Real Madrid kini hampir tak akan mendapatkan gelar juara pada musim ini. Kesempatan terakhir ada di Liga Spanyol, dengan situasi yang cukup berat saat mereka sudah tertinggal 9 poin dari Barcelona. Ppeluang membalikkan keadaan secara matematis masih ada, tetapi berat di realita.
Gelandang Jude Bellingham menjadi sosok yang tak bisa menutupi kekecewaannya. Gelandang asal Inggris ini mengakui situasi di Real Madrid menjadi sangat penuh tekanan. Hasil-hasil yang dicapai membuat seluruh tim dalam posisi sulit.
“Setiap kekalahan di Liga Champions terasa seperti bencana. Mengingat situasi kami, pertandingan ini seperti final,” ujarnya seperti dilansir dari BBC.
Jude Bellingham menambahkan, tekanan yang besar membuat laga tersebut terasa seperti ‘semua atau tidak sama sekali’. Membuat semua pemain dan seluruh bagian tim mendapatkan tekanan sangat berat dan akhirnya gagal merebut hasil yang diinginkan.
Musim ini berjalan jauh dari kata stabil bagi Real Madrid. Dimulai dengan era Xabi Alonso, tim sempat memimpin klasemen Liga Spanyol. Namun, performa anjlok Real Madrid membuat arah yang sudah terlihat akhirnya perlahan menjadi suram.
Kekalahan dari Barcelona di Piala Super Spanyol menjadi awal titik balik kendurnya langkah Real Madrid. Kekalahan ini membuat Xabi Alonso mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Penggantinya, Alvaro Arbeloa, juga tak mendapat awal yang mudah setelah tersingkir dari Copa del Rey oleh tim divisi dua.
Situasi ini memperlihatkan satu rangkaian inkonsistensi dari permainan yang ditunjukan oleh Real Madrid pada musim ini. Puncaknya adalah saat tersingkir dari Liga Champions, pada Kamis (16/4/2026) dinihari WIB.
Murianews, Kudus – Kekecewaan mendalam menyelimuti ruang ganti Real Madrid usai tersingkir dari Liga Champions. Kekalahan dari Bayern Munich di perempat final Liga Champions, hampir menujukan hasil-hasil keseluruhan mereka sepanjang musim ini.
Los Blancos Real Madrid kini hampir tak akan mendapatkan gelar juara pada musim ini. Kesempatan terakhir ada di Liga Spanyol, dengan situasi yang cukup berat saat mereka sudah tertinggal 9 poin dari Barcelona. Ppeluang membalikkan keadaan secara matematis masih ada, tetapi berat di realita.
Gelandang Jude Bellingham menjadi sosok yang tak bisa menutupi kekecewaannya. Gelandang asal Inggris ini mengakui situasi di Real Madrid menjadi sangat penuh tekanan. Hasil-hasil yang dicapai membuat seluruh tim dalam posisi sulit.
“Setiap kekalahan di Liga Champions terasa seperti bencana. Mengingat situasi kami, pertandingan ini seperti final,” ujarnya seperti dilansir dari BBC.
Jude Bellingham menambahkan, tekanan yang besar membuat laga tersebut terasa seperti ‘semua atau tidak sama sekali’. Membuat semua pemain dan seluruh bagian tim mendapatkan tekanan sangat berat dan akhirnya gagal merebut hasil yang diinginkan.
Musim ini berjalan jauh dari kata stabil bagi Real Madrid. Dimulai dengan era Xabi Alonso, tim sempat memimpin klasemen Liga Spanyol. Namun, performa anjlok Real Madrid membuat arah yang sudah terlihat akhirnya perlahan menjadi suram.
Kekalahan dari Barcelona di Piala Super Spanyol menjadi awal titik balik kendurnya langkah Real Madrid. Kekalahan ini membuat Xabi Alonso mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Penggantinya, Alvaro Arbeloa, juga tak mendapat awal yang mudah setelah tersingkir dari Copa del Rey oleh tim divisi dua.
Situasi ini memperlihatkan satu rangkaian inkonsistensi dari permainan yang ditunjukan oleh Real Madrid pada musim ini. Puncaknya adalah saat tersingkir dari Liga Champions, pada Kamis (16/4/2026) dinihari WIB.
Bertanggung Jawab...
Di tengah tekanan, Arbeloa memilih berdiri di garis depan. Mantan pemain Real Madrid ini tak menyalahkan pemain, meski mengkritik keputusan wasit terkait kartu Camavinga. Hasil buruk di Liga Champions ini dengan cepat diambil alihnya sebagai tanggung jawab.
“Saya yang bertanggung jawab atas kekalahan ini. Saya akan menerima semua konsekuensinya. Saya peduli pada klub ini lebih dari diri saya sendiri. Tujuan saya hanya membantu tim dan para pemain,” ujarnya.
Namun, sejarah Real Madrid tidak berpihak pada pelatih tanpa trofi. Nama-nama besar seperti Zinedine Zidane dan Manuel Pellegrini pun pernah merasakan kerasnya konsekuensi tersebut. Tanpa gelar, berarti siap-siap akan dicopot.
Di sisa Liga Champions musim ini, jika gagal mengejar Barcelona, Real Madrid berpotensi mengakhiri musim tanpa gelar. Sebuah kondisi yang sangat-sangat dibenci oleh Real Madrid dan para pendukungnya. Sebuah tuntutan berat, yang memang menjadi konsekuensi dari sebuah tim besar.
Jika musim tanpa trofi kembali terjadi, maka ini akan menjadi yang rekor buruk bagi Real Madrid. Sebab jika benar, maka ini akan menjadi kali pertama dalam 16 tahun mereka menjalani dua musim beruntun tanpa trofi.
Meski begitu, tidak semua pihak mendukung perubahan drastis di Real Madrid. Mantan Real Madrid asal Inggris, Steve McManaman menilai pemecatan Arbeloa saat ini tidak akan memberi dampak signifikan bagi Real Madrid.
Dengan tekanan tinggi dan ekspektasi besar, posisi Arbeloa kini bisa dikatakan tengah berada di ujung tanduk. Presiden Real Madrid dikenal tidak ragu mengambil keputusan keras ketika trofi tak kunjung datang bagi klubnya.