Kisah Sukses Atlet Cilik Siswi SD Sokopuluhan di Kejurkab Panahan Pati
Umar Hanafi
Senin, 18 Mei 2026 11:53:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Pati – Siswi SDN Sokopuluhan 01, Dzakiyya Talita Sakhi Rohmadhoni, berhasil meraih gelar juara di Kejurkab Panahan Pati Junior 2026, Minggu pekan lalu. Ada cerita inspiratif di balik kesuksesan siswa berusia 9 tahun ini.
Atlet cilik berpotensial ini, sekarang menjadi kebanggaan SDN Sokopuluhan 01 Pati. Sehingga di upacara sekolah, Senin (18/5/2026) dia dipamerkan dihadapan para siswa lainnya.
Di balik senyum manis dan rasa bangganya meraih gelar juara di Kejurkab Panahan Pati, ada perjalanan panjang yang tidak dibangun dalam semalam. Dzkiyya sudah berlatih panahan sejak usai dini, mengasah skill hingga meraih prestasi.
Kiyya, demikian sapaan akrab atlet cilik panahan Pati ini, lahir di Pati pada 18 Januari 2016. Selain menyukai olahraga panahan, ia juga memiliki cita-cita mulia menjadi seorang dokter. Baginya, membidik target di arena panahan bukan sekadar olahraga, tetapi juga latihan ketekunan dan keberanian.
Perjalanan Kiyya di cabor panahan dimulai sejak tahun 2022. Saat itu ia masih menggunakan alat panah berbahan PVC, perlengkapan sederhana yang menjadi langkah awal mengenal dunia panahan.
Namun dari kesederhanaan itulah bakatnya mulai terlihat. Tahun demi tahun, ia terus mengikuti ajang POPDA dan selalu membawa pulang prestasi dari arena panahan.
Memasuki tahun ketiga, aturan perlombaan tidak lagi memperbolehkan penggunaan busur PVC. Kiyya harus naik level menuju peralatan yang lebih profesional seperti busur nasional, recurve, atau compound. Pilihan jatuh pada busur compound, jenis busur yang lebih berat dan menantang untuk atlet panahan cilik seusianya.
Awalnya tidak mudah. Tangan kecilnya sempat kesulitan menahan beban busur compound. Namun dukungan keluarga menjadi tenaga tambahan yang membuatnya terus bertahan di arena panahan.
Dukungan Keluarga...
- 1
- 2



