Sementara di kelas menengah, menariknya persaingan Manny Paquiao, Floyd Mayweather, Oscar De Lahoya dan Erick Morales, pernah membuat tinju dunia semarak. Namun daya tarik itu seperti hilang sejak mereka pensiun dar ring tinju.
Namun kini, di tengah hiruk pikuk dan brutalnya pertarungan MMA di gelangang UFC, muncul fenomena baru dari ring tinju. Benyamin Whittaker, atau lebih dikenal dengan Ben Whittaker, mulai memijar di dunia olahraga baku pukul yang tengah meredup.
Bermain di kelas berat ringan, nama Ben Whittaker mulai dikenal di seluruh dunia. Meski belum lama terjun di dunia tinju profesional, namun gaya permainannya yang memiliki warna lain membuat dunia mulai terkesima.
Gaya bertinjunya yang tengil mengingatkan orang pada sosok ‘Prince’ Nassem Hamed. Bahkan dalam beberapa pertarungannya, tingkah tengilnya bisa dikatakan melebihi Nassem Hamed.
Teknik bertinjunya juga sangat hebat, ditunjang kepercayaan dirinya yang tinggi, mengingatkan publik tinju pada sosok Mohamad Ali atau Sugar Ray Leonard. Sementara kecepatan dan kerasnya pukulan, orang akan mengingat pada sosok Mike Tyson.
Tarian Ben Whittaker di atas ring sangat lincah, memunculkan gerakan yang dikenal ‘menari seperti kupu-kupu’ dan ‘menyengat bagai lebah’ milik Mohamad Ali yang legendaris. Terutama gerakan cepatnya dalam meghindar, jelas mengingatkan pubik tinju dunia pada diri Mohamad Ali.
Timing-nya dalam melakukan serangan juga mengingatkan orang pada sosok Evander Hollyfield. Cerdas, cepat, tepat dan akurat. Singkat kata, Ben Whittaker menunjukan gabungan keindahan dari banyak sosok petinju top dunia.
Murianews, Kudus – Dunia tinju internasional selama ini seperti kehilangan daya tarik seiring ’pensiunnya’ beberapa petinju dunia. Bahkan ring tinju dunia seperti kalah pamor dengan kehadiran UFC dengan pertarungan MMA-nya yang brutal.
Era Mike Tyson-Hollyfield di kelas Berat tinju dunia di masa lalu, masih belum bisa ditandingi oleh kehadiran Anthony Joshua, Daniel Dubois atau sang Juara Alexander Usyx, di masa sekarang.
Sementara di kelas menengah, menariknya persaingan Manny Paquiao, Floyd Mayweather, Oscar De Lahoya dan Erick Morales, pernah membuat tinju dunia semarak. Namun daya tarik itu seperti hilang sejak mereka pensiun dar ring tinju.
Namun kini, di tengah hiruk pikuk dan brutalnya pertarungan MMA di gelangang UFC, muncul fenomena baru dari ring tinju. Benyamin Whittaker, atau lebih dikenal dengan Ben Whittaker, mulai memijar di dunia olahraga baku pukul yang tengah meredup.
Bermain di kelas berat ringan, nama Ben Whittaker mulai dikenal di seluruh dunia. Meski belum lama terjun di dunia tinju profesional, namun gaya permainannya yang memiliki warna lain membuat dunia mulai terkesima.
Gaya bertinjunya yang tengil mengingatkan orang pada sosok ‘Prince’ Nassem Hamed. Bahkan dalam beberapa pertarungannya, tingkah tengilnya bisa dikatakan melebihi Nassem Hamed.
Teknik bertinjunya juga sangat hebat, ditunjang kepercayaan dirinya yang tinggi, mengingatkan publik tinju pada sosok Mohamad Ali atau Sugar Ray Leonard. Sementara kecepatan dan kerasnya pukulan, orang akan mengingat pada sosok Mike Tyson.
Tarian Ben Whittaker di atas ring sangat lincah, memunculkan gerakan yang dikenal ‘menari seperti kupu-kupu’ dan ‘menyengat bagai lebah’ milik Mohamad Ali yang legendaris. Terutama gerakan cepatnya dalam meghindar, jelas mengingatkan pubik tinju dunia pada diri Mohamad Ali.
Timing-nya dalam melakukan serangan juga mengingatkan orang pada sosok Evander Hollyfield. Cerdas, cepat, tepat dan akurat. Singkat kata, Ben Whittaker menunjukan gabungan keindahan dari banyak sosok petinju top dunia.
Siapa Ben Whittaker?......
Siapa Ben Whittaker dan mengapa semua orang membicarakannya? Petinju berusia 26 tahun asal Inggris mulai dikenal setelah merebut medali perak di Olimpiade Tokyo 2021 lalu.
Selanjutnya, Ben Whittaker merambah dunia tinju profesional di kelas berat ringan. Rekor bertandingnya saat ini bisa disebut sangat mengkilat sebagai pendatang di kancah tinju profesional, 8 kali menang (5 KO) di 8 pertandingan.
Saat memutuskan bermain di jalur tinju profesional, Ben Whittaker bergabung dengan pelatih Amerika SugarHill Steward. Sosok ini adalah keponakan pelatih legendaris Manny Steward, dan saat ini juga menjadi pelatih juara kelas berat WBC Tyson Fury.
Whittaker juga masih dilatih Joby Clayton, yang merupakan pelatihnya saat masih sebagai petinju amatir. Whittaker tampil mengesankan di Olimpiade Tokyo, dengan mengetengahkan pertunjukan tinju yang tengil namun dengan kombinasi pukulan yang sangat kuat.
Ben Whittaker sendiri mengatakan, dirinya tidak mau dikait-kaitkan dengan nama-nama petinju terkenal yang pernah ada. Apa yang ditampilkannya adalah alamiah yang memang bisa ditampilkannya.
"Gaya yang saya lakukan sebenarnya hanya gaya saya. Saya tidak mencoba menjadi viral, saya tidak mencoba mendapatkan pujian dan hal-hal seperti itu. Tentu saja itu pujian tapi saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri,” ujarnya melalui SkySport.
Ben Whittaker juga menyebutkan, dirinya hanya ingin mencoba bersenang-senang saat melakukannya di atas ring tinju. Dalam hal ini setiap orang boleh memiliki pendapat mereka sendiri, tentang ini.
"Ketika saya benar-benar bertinju dan on-fire, saya yakin tidak banyak orang yang bisa bertinju seperti saya. Saya memiliki IQ tinju yang sangat bagus. Terkadang saya sedikit terbawa suasana,” tambahnya.
Pada Juli 2024 lalu, Ben Whittaker berhasil merebut gelar juara tinju kelas berat ringa IBF. Felar itu direbutnya setelah mengalahkan Ezra Arenyeka di Selhurt Part, sekaligus menempatkannya di dalam daftar peringkat penantang juara dunia WBC.
Setelah rentetan kemenangannya, Ben Whittaker masih akan ditunggu lagi penampilannya. Petinju ini menarik perhatian dengan gaya bermainnya yang lain daripada yang lain.
Para penggemar tinju tentu berharap, Ben Whittaker bisa kembali mengembalikan semarak olah raga tinju dunia seperti era 90-an. Ben Whittaker dijadwalkan akan menghadapi Liam Cameron pada 12 Oktober 2024 ini.