Rencana pemakamannya disebutkan akan dilangsungkan pada Selasa (25/11/2025) besok. Pemakaman Pondok Kelapa Jakarta Timur, akan menjadi lokasi pemakamannya, setelah karir cemerlangnya sebagai salah satu kiper hebat bagi Timnas Indonesia.
Dari sejumlah literatur, Ronny Pasla merupakan salah satu legenda sepak bola asal Medan yang lahir pada 15 April 1947. Karirya seagai kiper sepak bola menjulang pada kisaran tahun 1966 hingga 1985, sebelum mengakhiri karir sebagai atlet sepak bola.
Ada kisah mearik di seputar karir cemerlang Ronny Pasla. Sebelum menekuni sepak bola sebagai kiper, Ronny Pasla ternyata sempat menjalani karir sebagai seorang atlet tenis. Bahkan prestasinya di cabor tenis termasuk luar biasa.
Dalam perkembangan selanjutnya, ayahnya Felix Pasla menyarankan sang anak untuk pindah menekuni olah raga sepak bola. Itu didasarakan karena Ronny Pasla memiliki postur tinggi besar, dengan tinggi 184 cm dan berat 79 kg.
Murianews, Kudus – Legenda Timnas Indonesia Ronny Pasla meninggal dunia pada Senin (24/11/2025) dinihari WIB. Kabar ini sudah beredar luas di kalangan wartawan sepak bola nasional, dan langsung melahirkan duka cita mendalam.
Seperti dilansir dari CNN Indonesia, Ronny Pasla meninggal dunia di usia 79 tahun. Penjaga gawang legedaris Timnas Indonesia ini disebutkan meninggalkan istri dan 6 orang anak. Kabar terakhir, jenasahnya masih disemayamkan di Gereja Evangelis, Cempaka Putih, Jakarta Timur.
Rencana pemakamannya disebutkan akan dilangsungkan pada Selasa (25/11/2025) besok. Pemakaman Pondok Kelapa Jakarta Timur, akan menjadi lokasi pemakamannya, setelah karir cemerlangnya sebagai salah satu kiper hebat bagi Timnas Indonesia.
Dari sejumlah literatur, Ronny Pasla merupakan salah satu legenda sepak bola asal Medan yang lahir pada 15 April 1947. Karirya seagai kiper sepak bola menjulang pada kisaran tahun 1966 hingga 1985, sebelum mengakhiri karir sebagai atlet sepak bola.
Ada kisah mearik di seputar karir cemerlang Ronny Pasla. Sebelum menekuni sepak bola sebagai kiper, Ronny Pasla ternyata sempat menjalani karir sebagai seorang atlet tenis. Bahkan prestasinya di cabor tenis termasuk luar biasa.
Pada PON 1965 yang akhirnya dibatalkan karena peristiwa G30 S PKI, Ronny Pasla diketahui telah masuk dalam tim tenis Sumatera Utara yang akan turun di PON 1965. Berikutnya Ronny Pasla bahkan sukses merebut gelar juara di Kejurnas Tenis Junior yang digelar di Malang pada 1967.
Dalam perkembangan selanjutnya, ayahnya Felix Pasla menyarankan sang anak untuk pindah menekuni olah raga sepak bola. Itu didasarakan karena Ronny Pasla memiliki postur tinggi besar, dengan tinggi 184 cm dan berat 79 kg.
Postur Tinggi Besar...
Dengan posturnya ini, Ronniy Pasla kemudian terjun ke dunia sepak bola, menjadi kiper. Klub Dinamo, yang merupakan klub anggota PSMS Medan, menjadi klub pertama bagi awal karirnya yang kemudian sangat cemerlang.
Kemampuannya bermain sebagai kiper menarik perhatian pelatih PSMS Jr, Ramli Yatim yang kemudian memanggilnya untuk berlaga di Piala Soeratin 1967. Tak diduga, performa Ronny Pasla yang luar biasa menjadi bagian dari sukses PSMS Jr merebut gelar Juara Piala Soeratin 1967.
Dari Tim PSMS Jr ini, selain Ronny Pasla juga lahir pemain-pemain hebat sepak bola Indonesia. Diantaranya adalah Sarman Panggabean dan Nobon Noor. Berikutnya nama-nama hebat di tim PSMS Jr ditarik ke Tim Utama PSMS yang akan turun di Kejurnas PSSI pada 1967.
Di Tim utama PSMS, Ronny Pasla terus menunjukan kemampuan terbaiknya. Seiring dengan itu, PSMS berhasil merebut gelar juara dan membuat namanya mulai di kenal dalam skala nasional. PSMS kemudian menjadi wakil Indonesia di Aga Khan Gold Cup 1967 di Bangladesh.
Di turnamen internasional ini, Ronny Pasla meneruskan suksesnya, saat timnya sukses merebut gelar Juara Aga Khan Gold Cup 1967 setelah di Final mengalahkan klub tuan rumah Mohammaden 2-0. Sejak itu, nama Ronny Pasla semakin berkibar di level Nasional dan Asia.
Setelahnya Ronny Pasla kemudian mendapatkan panggilan Timnas Indonesia, dan bersaing sehat dengan Judo Hadianto, kiper legendaris Timnas Indonesia lainnya. Berbagai prestasi berhasil dicapainya sebagai kiper PSMS dan Timnas Indonesia.
Prestasi...
Berikut Prestasi Ronny Pasla bersama PSMS Medan:
- Juara Piala Soeratin (1967)
- Juara Kejurnas PSSI (1967,1969 dan 1971)
- Juara Aga Khan Gold Cup (1967)
- Juara Soeharto Cup (1972)
- Juara Marah Halim Cup (1972 dan 1973)
- Semifinalis AFC Champions Cup (1970)
- Medali Emas PON 1969 di Surabaya (Sumut)
- Warga Utama Kota Medan (1967)
- Piagam dan Medali Emas dari PSSI (1968)
- Atlet Terbaik Nasional (1972)
- Penjaga Gawang Terbaik Nasional (1974).
Prestasi Ronny Pasla Bersama Timnas Indonesia:
- Juara King's Cup di Thailand (1968)
- Juara Merdeka Games (1969)
- Juara Pesta Sukan Singapura (1972)
- Juara Djakarta Anniversary Cup 1972
Selain itu Ronny Pasla menjadi bagian dari Timnas Indonesia yang nyaris lolos ke Olimpiade 1976. Tetapi saat itu, Timnas Indonesia kalah dari Korea Utara dalam drama adu penalti.
Beberapa momen besar juga pernah dilalui Ronny Pasla sebagai kiper Timnas Indonesia. Diantaranya saat Timnas Indonesia berlaga di pertandingan persahabatan melawan Santos FC, yang diperkuat Pele. Pada laga yang digelar 24 Juni 1972 di SUGB Jakarta, Ronny Pasla sukses menahan eksekusi penalti Pele.
Di laga itu Timnas Indonesia akhirnya kalah 2-3, tetapi peampilan Ronny Pasla sangat menonjol dan terus dikenang hingga saat ini. Berikutnya, ketika PSMS Medan beruji coba vs PSV Eindhoeven pada 1971 di Medan, Ronny Pasla juga ikut menjadi pusat perhatian.
Saat itu PSMS Medan kalah 0-4 dari PSV Eindoven. Tetapi penampilan Ronny mengundang decak kagum pelatih dan bintang PSV kala itu, Guus Hiddink. Momen bersejarah bagi Ronny Pasla lainnya, adalah saat Timnas Indonesia berujicoba melawan Benfica yang diperkuat Eusebio pada 1972.