Namun realitas saat ini berkata lain. Nominal tersebut dianggap di luar jangkauan Real Madrid, terutama tanpa dukungan negosiasi antarklub. Kembali ke sumber konflik, Real Madrid disebut berada di balik strategi yang membuat Mbappe hengkang sebagai agen bebas.
PSG sempat panik dan berupaya menjual Mbappe di tahun terakhir kontraknya, bahkan menerima tawaran fantastis dari Timur Tengah. Namun sang pemain menolak semuanya, sehingga klub Paris kehilangan Mbappe dengan cara yang benar-benar menyakitkan.
PSG kehilangan Mbappe tanpa kompensasi, dan membuat mereka sangat marah pada Real Madrid. Setelah musim 2023/24, Mbappe resmi bergabung ke Real Madrid, menjadi titik balik perang dingin antara dua raksasa Eropa tersebut.
Kini, imbas dari situasi yang terjadi setelah kasus Mbappe, membuat rencana transfer Vitinha ikut terdampak. Satu-satunya celah yang tersisa agar dirinya bisa pergi ke Madrid, saat ini hanya bergantung pada keputusan Vitinha sendiri.
Namun dengan kontrak jangka panjang hingga 2029 dan sikap keras PSG, peluang hijrah ke Bernabeu nyaris mendekati nol. Dendam yang muncul dari PSG gegara Mbappe masih membara, dan Vitinha sangat mungkin bisa menjadi korbannya.
Murianews, Kudus — Perseteruan panas Kylian Mbappe vs Paris Saint Germain (PSG), rupanya belum sepenuhnya padam. Situasi ini juga berdampak pada hubungan PSG dan Real Madrid berkaitan dengan masalah bursa transfer pemain.
PSG dan Madrid disebut-sebut kini memasuki fase terdingin dalam sejarah. Klub raksasa Prancis itu dikabarkan menolak mentah-mentah semua pendekatan negosiasi dari Los Blancos untuk sejumlah kemungkinan transfer pemain mereka.
Real Madrid sedang gencar mencari gelandang berpengalaman, menyusul kesenjangan besar di lini tengah yang disadari langsung oleh Xabi Alonso. Kepergian dua pilar legendaris, Toni Kroos dan Luka Modric, meninggalkan lubang kepemimpinan yang tak mudah ditambal.
Awalnya, publik Santiago Bernabeu mengira regenerasi lini tengah berjalan mulus. Namun kenyataan berkata lain. Minimnya pengalaman dan karakter pemimpin membuat Real Madrid kini dalam kondisi darurat gelandang senior.
Dalam konteks ini Vitinha, maestro lini tengah PSG muncul sebagai target impian Real Madrid. Gaya bermain, visi, dan kematangannya dianggap cocok untuk menyeimbangkan skuad muda di Real Madrid. Namun sejak awal, transfer ini sudah dicap nyaris mustahil.
Menurut laporan Defensa Central, sosok yang menjadi penghalang terbesar bukanlah nilai transfer, melainkan Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi sendiri. Disebutkan, Al-Khelaifi menolak total untuk duduk satu meja dengan Presiden Real Madrid, Florentino Perez, terkait kesepakatan apa pun.
Sikap itu jelas menjadi efek langsung dari kasus Kylian Mbappe yang melukai harga diri PSG. Mbappe diketahui memenangkan gugatan hukum yang mengharuskan PSG harus membayar uang dalam jumlah sangat besar.
Secara teknis, Vitinha memiliki klausul pelepasan senilai 90 juta euro dalam kontraknya yang berlaku hingga 2029. Klausul ini sempat masuk radar Real Madrid, terutama jika klub memperoleh suntikan dana besar dari kemungkinan penjualan pemain bintang seperti Vinicius.
Vitinha Jadi Korban...
Namun realitas saat ini berkata lain. Nominal tersebut dianggap di luar jangkauan Real Madrid, terutama tanpa dukungan negosiasi antarklub. Kembali ke sumber konflik, Real Madrid disebut berada di balik strategi yang membuat Mbappe hengkang sebagai agen bebas.
PSG sempat panik dan berupaya menjual Mbappe di tahun terakhir kontraknya, bahkan menerima tawaran fantastis dari Timur Tengah. Namun sang pemain menolak semuanya, sehingga klub Paris kehilangan Mbappe dengan cara yang benar-benar menyakitkan.
PSG kehilangan Mbappe tanpa kompensasi, dan membuat mereka sangat marah pada Real Madrid. Setelah musim 2023/24, Mbappe resmi bergabung ke Real Madrid, menjadi titik balik perang dingin antara dua raksasa Eropa tersebut.
Kini, imbas dari situasi yang terjadi setelah kasus Mbappe, membuat rencana transfer Vitinha ikut terdampak. Satu-satunya celah yang tersisa agar dirinya bisa pergi ke Madrid, saat ini hanya bergantung pada keputusan Vitinha sendiri.
Namun dengan kontrak jangka panjang hingga 2029 dan sikap keras PSG, peluang hijrah ke Bernabeu nyaris mendekati nol. Dendam yang muncul dari PSG gegara Mbappe masih membara, dan Vitinha sangat mungkin bisa menjadi korbannya.