Namun, ia juga menyadari bahwa keputusan untuk pergi adalah bagian dari perjalanan hidup. Semua sudah diputiskannya. Meski ada penyesalan, semua tak bisa kembali seperti sediakala.
“Terkadang Anda harus berubah demi hidup Anda sendiri dan langkah selanjutnya dalam karier,” tambahnya.
Enam bulan terakhir di Mancheste United, sebelum akhirnya hengkang ke Chelsea diakui Garnacho menjadi periode terburuknya. Saat itu dirinya mulai sering duduk di bangku cadangan, sebuah kenyataan yang sulit diterima oleh dirinya yang masih muda dan berambisi besar.
Saat usianya baru 20 tahun, Garnacho merasa seharusnya bisa bermain di setiap pertandingan. Tekanan dan ekspektasi tinggi membuatnya mengakui ada kesalahan dalam sikapnya.
“Mungkin sebagian kesalahan juga ada pada saya. Saya mulai melakukan beberapa hal yang tidak benar,” ungkapnya jujur.
Meski begitu, ia melihat fase tersebut sebagai pelajaran penting dalam kariernya. Kini, Garnacho mencoba membuka lembaran baru bersama Chelsea. Ia mengaku bangga bisa tetap bermain di Liga Premier dan menjadi bagian dari skuad bertabur bintang di Stamford Bridge.
Menurutnya, setiap tim pasti mengalami pasang surut performa. Namun, ia optimistis dengan potensi besar yang dimiliki The Blues musim ini. Menariknya, Garnacho menegaskan tidak menyimpan dendam terhadap Manchester United.
“Saya tidak punya hal buruk untuk dikatakan tentang klub atau siapa pun di sana. Hidup terus berjalan,” katanya.
Dilanjutan Liga Inggris pekan ini, Garnacho akan menghadapi dua laga besar yang sarat emosi. Chelsea dijadwalkan menghadapi Manchester City, sebelum bertemu mantan klubnya, Manchester United. Semua laga akan digelar di Stamford Bridge.
Murianews, Kudus – Cinta lama Alejandro Garnacho ke Manchester United tampaknya tak benar-benar padam. Kepindahannya dari Manchester United ke Chelsea ternyata menyisakan penyesalan, dan kini diungkapkannya secara terbuka.
Dalam wawancara bersama Premier League Productions, winger muda asal Argentina itu mengungkap sisi emosional di balik keputusannya meninggalkan Old Trafford pada musim panas lalu. Saat itu Garnacho pergi dengan nilai transfer £40 juta.
Kepindahan Garnacho disebut karena hubungan buruknya dengan pelatih Ruben Amorim. Masalah ini menjadi titik balik yang sulit diperbaiki. Ketegangan memuncak ketika dirinya secara terbuka mengkritik keputusan Amorim yang tidak memasukkannya ke starting XI pada final Liga Europa.
Saat itu, Manchester United harus mengakui keunggulan Tottenham. Kritik Garnacho di ruang publik memperkeruh situasi, hingga membuat hubungannya dengan pelatih asal Portugal tersebut semakin memburuk.
Situasi kian memanas ketika Jadon Garnacho terlihat mengenakan jersey Aston Villa dengan nama Marcus Rashford di belakangnya. Secara kebetulan Rashford adalah pemain yang juga berselisih dengan Amorim. Sejak saat itu, posisinya di tim utama perlahan terpinggirkan.
“Mungkin Saya Menyesal…Mungkin ya, karena saya sangat mencintai klub itu. Mereka percaya pada saya sejak awal,” ujar Garnacho kepada Premier League Productions.
Selanjutnya Garnacho mengenang perjalanan kariernya yang dimulai dari akademi hingga menembus tim utama. Selama 4–5 tahun berseragam Setan Merah, Garnacho merasa mendapat dukungan besar dari klub dan para suporter.
Perjalanan Hidup...
Namun, ia juga menyadari bahwa keputusan untuk pergi adalah bagian dari perjalanan hidup. Semua sudah diputiskannya. Meski ada penyesalan, semua tak bisa kembali seperti sediakala.
“Terkadang Anda harus berubah demi hidup Anda sendiri dan langkah selanjutnya dalam karier,” tambahnya.
Enam bulan terakhir di Mancheste United, sebelum akhirnya hengkang ke Chelsea diakui Garnacho menjadi periode terburuknya. Saat itu dirinya mulai sering duduk di bangku cadangan, sebuah kenyataan yang sulit diterima oleh dirinya yang masih muda dan berambisi besar.
Saat usianya baru 20 tahun, Garnacho merasa seharusnya bisa bermain di setiap pertandingan. Tekanan dan ekspektasi tinggi membuatnya mengakui ada kesalahan dalam sikapnya.
“Mungkin sebagian kesalahan juga ada pada saya. Saya mulai melakukan beberapa hal yang tidak benar,” ungkapnya jujur.
Meski begitu, ia melihat fase tersebut sebagai pelajaran penting dalam kariernya. Kini, Garnacho mencoba membuka lembaran baru bersama Chelsea. Ia mengaku bangga bisa tetap bermain di Liga Premier dan menjadi bagian dari skuad bertabur bintang di Stamford Bridge.
Menurutnya, setiap tim pasti mengalami pasang surut performa. Namun, ia optimistis dengan potensi besar yang dimiliki The Blues musim ini. Menariknya, Garnacho menegaskan tidak menyimpan dendam terhadap Manchester United.
“Saya tidak punya hal buruk untuk dikatakan tentang klub atau siapa pun di sana. Hidup terus berjalan,” katanya.
Dilanjutan Liga Inggris pekan ini, Garnacho akan menghadapi dua laga besar yang sarat emosi. Chelsea dijadwalkan menghadapi Manchester City, sebelum bertemu mantan klubnya, Manchester United. Semua laga akan digelar di Stamford Bridge.