Kemampuan membalikkan keadaan setelah water break bahkan tercatat kurang dari enam persen. Data itu mematahkan anggapan bahwa jeda pertandingan selalu menjadi keuntungan bagi tim yang sedang tertekan di Piala Dunia 2026.
Meski demikian, analisis juga menemukan sisi lain dari water break. Dalam sekitar 15 persen pertandingan, tim yang sedang menyerang justru kehilangan momentum karena ritme permainan terputus selama jeda water break.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa efektivitas water break tidak hanya bergantung pada instruksi pelatih. Kemampuan pemain menjaga intensitas permainan setelah jeda juga menjadi faktor penting yang menentukan hasil pertandingan.
Murianews, Kudus – Jeda minum atau water break selama Piala Dunia 2026 ternyata lebih sering menguntungkan tim yang sedang menguasai permainan. Temuan itu muncul setelah analisis terhadap seluruh pertandingan sepanjang turnamen.
Media olahraga Spanyol Marca, dalam laporan yang dipublikasikan Rabu (22/7/2026), mengulas hasil analisis data dari Driblab terhadap 208 momen water break di 104 pertandingan Piala Dunia 2026.
Kajian tersbeut menyoroti dampak jeda pertandingan atua water break terhadap perubahan jalannya laga. Dari analisaa yang dilakukan hasilnya menunjukan kecnenderungan sperti itu.
Piala Dunia 2026 berlangsung di sejumlah kota dengan suhu yang kerap melampaui 30 derajat Celsius. Kondisi itu disikapi FIFA dengan kebijakan menghentikan pertandingan sekitar menit ke-23 dan ke-67 untuk water break.
Selain menjaga kondisi fisik pemain, jeda water break Piala Dunia 2026, tentu saja juga menjadi kesmpatan bagi pelathi untku memberikan arahan taktik. Selama sekitar tiga menit, pemain menerima instruksi sebelum pertandingan kembali dilanjutkan.
Dalam analisisnya, Marca menggunakan data xThreat atau indeks ancaman serangan untuk membandingkan permainan sebelum dan sesudah water break. Pengukuran dilakukan lima menit sebelum dan lima menit setelah pertandingan dimulai kembali, bahkan diperluas hingga sepuluh menit pada situasi tertentu.
Hasilnya menunjukkan tim yang sebelumnya mendominasi pertandingan justru mampu mempertahankan bahkan meningkatkan tekanan setelah jeda water break. Kondisi tersebut terjadi dalam 73 dari total 208 kasus yang dianalisis di Piala Dunia 2026.
Angka tersebut mewakili lebih dari sepertiga keseluruhan sampel penelitian. Sebaliknya, tim yang berada di bawah tekanan hanya mampu memberikan respons berarti pada sekitar 16 persen kasus.
Keuntungan...
Kemampuan membalikkan keadaan setelah water break bahkan tercatat kurang dari enam persen. Data itu mematahkan anggapan bahwa jeda pertandingan selalu menjadi keuntungan bagi tim yang sedang tertekan di Piala Dunia 2026.
Meski demikian, analisis juga menemukan sisi lain dari water break. Dalam sekitar 15 persen pertandingan, tim yang sedang menyerang justru kehilangan momentum karena ritme permainan terputus selama jeda water break.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa efektivitas water break tidak hanya bergantung pada instruksi pelatih. Kemampuan pemain menjaga intensitas permainan setelah jeda juga menjadi faktor penting yang menentukan hasil pertandingan.